Mengenai Saya

Foto saya
MIS BAHRUL ULUM PURWOREJO PUNGGING MOJOKERTO BERADA DI DAERAH PEGUNUNGAN TEPATNYA DI JALAN MOJOSARI TRAWAS KM 11DESA PURWOREJO RT/RW 12/02

DIEN AL-ISLAM MEMELIHARA FITRAH INSAN khutbah Jumat


الله أكبر الله أكبر الله أكبر  الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر، لا إله إلا الله الله أكبر ولله الحمد
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ كَتَبَ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ الصِّيَامَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ، وَأَنْزَلَ فِيْهِ الُقُرْانَ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنْ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله وَحْـدَهُ لاَ شَـرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُـوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَّلِّ وسلم عَلَى هَذَا النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ مُحَمَّدٍ وَعَلَى الِهِ وَأَصْـحَابِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى اخِرِ الزَّمَانِ، أما بعد: فَيَا مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ الله، أُوصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَا اللهَ فَقْدْ فَازَ الْـمُتَّقُوْنَ. وَقَدْ قـَالَ اللهُ تَعاَلَى فِي الْـقُرْاَنِ الْكَرِيْمِ:
Ma’asyiral Muslimin wal muslimat rahimakumullah..jamaah masjid  Arrahma Jiyu-Kutorejo
Alhamdulillah, dengan izin Allah SWT. kita semua bergembira telah dipertemukan dengan bulan suci Ramadhan. Dari awal hingga akhir. Dan kini setelah satu bulan penuh berpuasa di bulan yang penuh berkah itu kita merayakannya dengan Idul Fitri.
Setidaknya ada ( 7 ) pelajaran penting yang telah kita dapatkan:
1.       Pertama, kita sadar bahwa Allah selalu bersama kita. Di bulan Ramadhan, saat berpuasa, meski di tempat yang sangat sepi dan kita sendirian tak mungkin kita diam-diam minum air meski hanya seteguk. Bahkan air setetes pun kita jaga agar tidak sampai masuk ke dalam tenggorokan kita. Mengapa? Karena kita sadar bahwa Allah melihat kita. Meski kita sendirian tetap dilihat Allah. Meski satu tetes juga tetap dilihat oleh Allah. Karena kita merasa bahwa Allah selalu bersama dengan kita dan kita selalu dilihatnya, maka meski subuh kurang satu menit kita pun sudah tak mau makan dan minum lagi, dan begitu juga meski maghrib kurang satu menit kita juga tak mau berbuka. Sungguh luar biasa. Puasa telah menyadarkan kita akan pengawasan Allah atas diri kita hingga pada tingkat yang sekecil-kecilnya. Inilah derajat keimanan yang paling tinggi yaitu derajat ihsan.
أنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأنَّكَ تَرَاهُ فإنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فإنَّهُ يَرَاكَ
Kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Dan bila kamu tidak melihat-Nya, maka kamu sadar bahwa Ia melihatmu.” (Hr. Muslim).
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah. Tentu kesadaran seperti ini bukan hanya dimaksudkan saat kita puasa di bulan Ramadhan saja. Tapi hendaknya kita wujudkan dalam kehidupan kita secara keseluruhan. Di mana pun kita berada. Di kantor atau di pasar. Di rumah sendiri, atau di hotel saat tak ada istri/suami. Betapa indahnya apabila semua pejabat, pegawai negeri, para pengusaha, politisi, guru dll tak ada yang korupsi, karena sadar berapa pun uang diambil adalah dilihat oleh Allah. Kita sadar dari lubuk hati sendiri, bahwa kita tak bisa bersembunyi dan tak ada yang bisa kita sembunyikan sama sekali. Allah berfirman:
“Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” (Al-Mulk: 13)
2.      Kedua, kita sadar melakukan kewajiban baru setelah itu menerima hak. Banyak orang yang hanya cerdas menuntut hak tapi tak pandai menunaikan kewajiban. Karena tak logis seseorang mendapatkan hak padahal kewajiban tak ditunaikan.Puasa benar-benar menyadarkan kita semua akan adanya hukum hak dan kewajiban ini. Kita menjalankan puasa, lalu kita dapatkan hak untuk berbuka. Kita lakukan perintah-perintah Allah dan kita tinggalkan larangan-larangan-Nya selama kita berpuasa, dan kita diberikan hak untuk dikabulkannya doa. Allah berfirman:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al-Baqarah: 186).
Inilah jalan yang lurus, benar dan logis. Memenuhi panggilan Allah, beriman kepada-Nya lalu silakan untuk minta dan berdoa kepada-Nya. Banyak orang yang tak malu; minta masuk surga tapi shalat tak mau. Banyak minta dan berdoa kepada Allah, tapi saat dipanggil Allah tidak datang. Saat senang lupa kepada Allah, tapi saat susah baru ingat dan berdoa kepada-Nya. Nabi bersabda:
تَعرَّفْ إِلَى اللهِ في الرَّخَاءِ يَعْرِفكَ في الشِّدَّةِ
Ingatlah kepada Allah saat senang niscaya Allah ingat kepadamu saat susah.” (Hr. Ahmad)
3.      Ketiga kita sadar bahwa kesulitan membawa kemudahan. Perjuangan membawa kemenangan. Puasa mendatangkan kenikmatan berbuka dan menghadirkan hari raya. Inilah kaidah penting yang harus kita camkan. Siapa saja yang ingin sukses, tidaklah mungkin tidak menghadapi kesulitan. Tak ada orang yang sukses tanpa perjuangan. Siapa yang hanya berpangku tangan, maka cukuplah udara hampa yang didapatkan. Puasa mengajarkan kita semua, tak mungkin bisa merasakan nikmatnya berbuka dan hari raya kecuali yang telah berpuasa dengan baik.
Wahai anak-anak dan para pemuda. Yang yatim dan yang papa. Yang sedang sakit dan yang lemah. Jangan anggap kesulitan itu rintangan. Sesungguhnya kesulitan adalah tangga manis untuk mengantarkan kesuksesan. Allah berfirman:
“Maka sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (Al-Insyrah: 5-8)
4.      Keempat, kita sadar bahwa Allah sangat mencintai kita semua. Kepada hamba-hamba-Nya yang beriman ini. Umat Nabi Muhammad Saw..
Allah menganugerahkan Ramadhan yang penuh berkah. Allah telah membuka pintu-pintu Surga. Allah telah menutup semua pintu neraka. Syetan pun dibelenggu. Pahala dilipat gandakan dengan melimpah ruah. Lailatul qadar yang lebih baik daripada seribu bulan telah dianugerahkan. Inilah kecintaan Allah kepada kita umat Nabi Muhammad yang beriman.
Tinggal apakah kecintaan Allah ini kita balas dengan ketaatan atau kedurhakaan. Betapa buruknya bila kecintaan ini kita balas dengan kemaksiatan. Betapa buruknya bila panggilan-Nya yang penuh dengan kecintaan ini kita sambut dengan pura-pura tidak mendengar. Betapa buruknya, bila hari raya yang penuh berkah (bergemuruh takbir, tahlil dan tahmid ini) lalu kita susul dengan pesta dosa. Betapa buruknya, bila di bulan Ramadhan bisa menahan nafsu, tapi setelah itu kembali bernafsu menciderai teman.
Allahu akbar 3x walillahilhamd..
5.      Kelima, kita sadar bahwa dalam hidup ini hendaknya saling cinta mencintai. Puasa telah mengajarkan kita empati dan berbagi terhadap sesama. Kita berpuasa tapi ada makanan untuk berbuka. Kita berpuasa tapi hanya dalam hitungan beberapa jam saja. Ada di antara kita yang berpuasa tapi tak ada makanan untuk berbuka dan tanpa batas waktu karena memang tak ada. Itulah maka di bulan Ramadhan kita gemar memberi. Dan, semuanya kita di akhir Ramadhan diwajibkan menunaikan zakat fitrah, untuk kaum fakir dan miskin.
Jadi puasa mengajarkan kita semua untuk saling berbagi dan cintai mencintai. Nabi bersabda:
لاَ تَدْخُلُوا الجَنَّةَ حَتَّى تُؤمِنُوا ، وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا ،. (رواه مسلم)
“Tidaklah kamu masuk Surga sehingga kamu beriman kepada Allah, dan tidaklah kamu beriman sehingga kamu saling cinta mencintai.” (Hr. Muslim)
6.      Keenam, kita sadar bahwa semua kenikmatan dunia hanyalah sementara. Puasa menunjukkan bahwa lapar dan kenyang di dunia ini tidaklah lama. Makanan dan minuman terasa nikmat bila masih di atas tenggorokan. Tapi kalau sudah kita telan, maka tak terasa lagi. Oleh karena itu yang kaya di dunia ini adalah sementara. Yang sehat juga sementara. Yang cantik, sementara. Yang muda, sementara. Pejabat, sementara. Dan semua itu menjadi sia-sia, bahkan menjadi sumber malapetaka, bila tidak dilandasi dengan Agama yang baik. Betapa banyaknya yang kaya akhirnya menderita karena tak memegang teguh Agama. Betapa banyaknya pejabat tinggi yang akhirnya jatuh hina karena tidak pegang agama. Betapa banyak rumah tangga menjadi berantakan setelah ekonomi meningkat sementara iman menurun.
Inilah puasa menyadarkan kepada kita bahwa peningkatan materi duniawi yang tak diiringi dengan peningkatan keimanan dan ketaqwaan, hanyalah mempercepat penderitaan. Peningkatan ekonomi, materi dan pembangunan fisik saja, tanpa dilandasi dan diiringi dengan ketaatan dalam beragama, maka itu tidak akan membuahkan kemakmuran,Allah berfirman:
وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا
“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Al-Isra’: 16)
7.      Ketujuh, akhirnya dengan puasa kita benar-benar sadar bahwa hakikat diri kita adalah jiwa, bukan tubuh. Puasa menyadarkan kita bahwa tubuh ini hanyalah rangka atau rumah belaka. Hakekat manusia adalah jiwanya. Ruhnya. Bukan badannya ini. Cepat atau lambat tubuh ini pasti akan kita tinggalkan. Dan kalau sudah kita tinggalkan maka tak berarti dan tak bernilai sama sekali.
Maka betapa merugi orang yang hanya sibuk mengurusi kesehatan jasmaninya saja, sementara ruh dan jiwa tak pernah diberikan haknya. Betapa buruknya orang yang hanya sibuk makan dan minum hingga tak peduli bulan ramadlon, padahal jasmani  ini bakal dikubur
Puasa menyadarkan kita, bahwa jiwa inilah yang terpenting. Ruh inilah yang tetap ada dan bakal mendapatkan balasan. Nabi bersabda:
إنَّ الله لا ينْظُرُ إِلى أجْسَامِكُمْ ، ولا إِلى صُوَرِكمْ ، وَلَكن ينْظُرُ إلى قُلُوبِكمْ وأعمالكم. (رواه مسلم)
“Sesungguhnya Allah tidak melihat tubuh-tubuh kamu dan juga tidak melihat kepada rupa-rupa kamu. Tetapi Allah melihat kepada hati kamu dan amal perbuatan kamu.” (Hr. Muslim)
Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, Saudara-saudara jamaah  masjid  Arrahma Jiyu-Kutorejo
Mau dikemanakan jasad kita?
·         Semasa hidup ..kita adalah tuan dan orang yang berkuasa di rumah sendiri,saat mati..tdk adayg setuju jasad kita disimpan walaupun hanya di garasi /gudang belakang
·         Semasa hidup… tiap malam ngobrol bersama anggota keluarga sambil  nonton tv…saat meninggal …tak ada yg terima walaupun hanya duduk diam di pojok bersama kita
·         Saat hidup kamu tidur bersama anak istri..saat meninggal..seisi rumah keberatan kalau kamu tidur sekamar sekalipun hanya di lantai bawah
·         Saat kita menjadi jasad yg tak bernyawa tk satupun yg mau menerima kita kecuali tanah.
·         Masih beranikah kita berkata dg sombong…ini milikku.. aq berkuasa..aku disegani..hartaku banyak aku gak butuh dia ataupun mereka,
·          Masih beranikah anda membiasakan tak sholat,tak puasa,berani orang tua,menyakiti tetangga dengan sengaja , menipu saudara
 Itulah urusan dan nasib tubuh kita. Yang cantik, yang kaya, yang sehat sama. Akhirnya bercampur dengan tanah dan jadi makanan binatang-binatang di dalamnya.
Apakah urusan selesai? Tidak. Yang mati hanya tubuh kita. Tapi ruh kita, jiwa kita masih ada. Di situlah babak kehidupan yang sejati dimulai. Tak ada sandiwara dan tak ada basa basi. Yang dipanggil bukan lagi jasmani ini. Tapi jiwa yang berada di dalam tubuh ini. Yang baik mendapatkan kebaikannya dan yang buruk mendapatkan keburukannya. Semoga kita semua ini nanti dipanggil oleh Allah dengan panggilan:
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
Allahu akbar 3x wa lillahil hamd. Ma’asyiral muslimin rahimakumullah..
بارك الله لي ولكم فى القرأن العظيم, وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ، وَنَفَعْنَا بِهَدْيِ سَيِّدِ المُرْسَلِيْنَ وَقَوْلُهُ القَوِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ

اللهُ أَكْبَرُ «سبعا»، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.
الْحَمْدُ للهِ الْحَكِيْمِ الْعَلِيْمِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ، وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صّلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ، صَلاَةً وَسَلاَمًا كَامِلَيْنِ مُتَلاَزِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أمّا بعد:
فَيَا عِبَادَ اللهِ،  (فاتقوا الله ما استطعتم – التغابون ١٦)
اتَّقُوا اللهَ رَبَّكُمْ، وَاعْبُدُوْهُ وَأَطِيْعُوْهُ وَوَحِّدُوْهُ، فَلاَ إِلَهَ غَيْرُهُ، إِنْ أَرَضْتُمْ دُخُوْلَ الْجِنَانِ، وَرُمْتُمْ رِضَى الرَّحْمَنِ، وَطَلَبْتُمُ السَّلاَمَةَ مِنَ النِّيْرَانِ، فَعَلَيْكُمْ بِتَوْحِيْدِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَسَلاَمَةِ الْعَقِيْدَةِ مِنَ اْلأَدْرَانِ، وَتَحْقِيْقِ الْعُبُوْدِيَّةِ وَاْلإِيْمَانِ.
 أَلاَ وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا – رَحِمَكُمُ اللهُ – عَلَى الْهَادِى الْبَشِيْرِ، وَالسِّرَاجِ الْمُنِيْرِ، كَماَ أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ الْمَوْلَى اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ، فَقَالَ تَعَالَى قَوْلاً كَرِيْمًا: (إن الله وملائكته يصلون على النبي، يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما – الأحزاب ٥٦)
 اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِ قُلُوْبِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فِى الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ: أَبِى بَكْرٍ الصِّدِّيْقِ، وَعُمَرَ الْفَارُوْقِ، وَعُثْمَانَ ذِى النُّوْرَيْنِ، وَعَلِيٍّ أَبِى السِّبْطَيْنِ، وَعَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ عِيْدَنَا سَعِيْدًا، وَعَمَلَنَا صَالِحًا رَشِيْدًا،اللَّهُمَّ كَمَا جَمَعْتَنَا فِى هَذَا الْمَكَانِ فَاجْمَعْ قُلُوْبَنَا عَلَى كِتَابِكَ وَسُنَّةِ نَبِيِّكَ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلاَمِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ وَالْفِتَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.

رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ,
وصلى الله على نبينا محمد وعلى اله وصحبه أجمعين,
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ  وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِ




Khutbah Jum at Hakekat Romadlon 2019


إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَاِلنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَ مَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلىَ اَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَ خَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ و كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
Amma ba’du, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan hendaklah kita senantiasa ingat, bahwa sebagai seorang muslim kita diwajibkan selama masih hidup untuk senantiasa taat dan beribadah kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala. Allâh berfirman,
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
dan beribadahlah kepada Rabbmu sampai datang kematian kepadamu.” (Q.S. al-Hijr/15: 99) .
Sebagian ulama salaf mengatakan, “Tiada tujuan lain amalan seorang muslim, kecuali untuk menghadapi kematian.”
Oleh karena itu, merupakan suatu keharusan bagi seorang muslim untuk lebih serius memperhatikan dan mengerahkan segala kemampuannya pada mawâsimil khair (waktu-waktu yang utama untuk melakukan kebaikan). Di antara bentuk rahmat Allâh Subhanahu wa Ta’ala yaitu Dia menyediakan bagi para hamba-Nya waktu-waktu utama yang pada saat itu,doa sangat didengar oleh Alloh, semua kebaikan dilipat gandakan balasannya dibandingkan waktu-waktu lainnya. Di antara waktu itu adalah waktu setelah sholat ba`da salam jadi gunakan berdoa “sampun Gupuh salaman dateng  kiwo tengen,eman eman dan  bulan Ramadhân
Wahai kaum Muslimin, rahimakumullâh
Hendaklah kita bersyukur kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala, karena Allâh Subhanahu wa Ta’ala masih memberi kita kesempatan untuk berjumpa dengan Ramadhân!. Karena bulan Ramadhân sebagaimana telah kita ketahui memiliki banyak keistimewaan.
Di antara keistimewaannya adalah Allâh Subhanahu wa Ta’ala menjadikan puasa pada bulan Ramadhân sebagai salah satu rukun Islam. Orang yang telah memenuhi persyaratan tidak diperkenankan meninggalkan berpuasa pada bulan itu, kecuali dengan alasan yang dibenarkan syariat, seperti bepergian jauh atau sakit. Itupun dia tetap dikenai beban untuk menggantinya di bulan-bulan yang lain. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. (Q.S. al-Baqarah/2: 185).
Juga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan keringanan kepada orang yang sudah berusia lanjut dan tidak mampu lagi untuk berpuasa. Orang seperti ini tidak dikenai kewajiban mengganti pada bulan yang lain. Dia hanya dikenai kewajiban membayar fidyah sesuai dengan ketentuan syariat.
Wahai kaum Muslimin, rahimakumullâh
Di antara keistimewaan Ramadhân yaitu shalat tarawih yang disyariatkan khusus pada bulan ini. Shalat sunat disyariatkan dikerjakan secara berjamaah di masjid. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ
Barangsiapa yang shalat bersama imam, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mencatat untuknya pahala shalat semalam penuh.
Para ulama mengatakan bahwa shalat ini hukumnya sunat mukkad, sehingga seharusnya bagi seluruh kaum muslimin memperhatikannya dengan baik.
Wahai kaum Muslimin, rahimakumullâh
Keistimewaan lain dari Ramadhân yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala memilihnya sebagai waktu untuk menurunkan Alquran yang merupakan petunjuk bagi manusia. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
BULAN Ramadhân, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alqurân sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (Qs al-Baqarah/2:185)
Ibnu Abbâs mengatakan, “Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan seluruh Alquran sekaligus dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul Izzah di langit dunia pada bulan Ramadhân. Lalu di sana, diturunkan secara berangsur-angsur sesuai dengan berbagai kejadian.”
Wahai kaum Muslimin, rahimakumullâh
Keistimewaan ramadhan yang selalu ditunggu-tunggu dan diharap-harap yaitu dia memilki Lailatul Qadr yang dijelaskan langsung oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala keistimewaannya yaitu lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang diberi taufik oleh untuk beramal malam itu, berarti sama dengan beramal selama delapan puluh tiga tahun. Semoga kita termasuk orang-orang yang diberi taufik oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk beramal shalih pada malam itu.
Marilah sejak sekarang kita bersungguh-sungguh dalam melakukan amal shalih pada bulan Ramadhân, sebagaimana anjuran Rasûlullâh. Bersungguh-sungguh melaksanakan berbagai amalan shalih, baik yang wajib, ataupun sunnah, seperti shalat, shadaqah, dan sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala. Maka, janganlah kita sia-siakan bulan ini dengan melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat, sebagaimana kelakuan orang-orang celaka. Yaitu orang-orang yang lupa kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala, sehingga Allâh pun melupakan mereka. Mereka tidak bisa memetik manfaat apapun dari bulan yang penuh kebaikan yang sudah SEPARO. Mereka tidak mengetahui kehormatan bulan ini dan tidak mengetahui nilainya.
Wahai kaum Muslimin, rahimakumullâh
Namun sangat disayangkan, banyak orang yang tidak mengerti hakikat bulan yang mulia ini, yang mereka tahu adalah bulan ini merupakan kesempatan untuk menghidangkan dan menyantap makanan dan minuman yang bervariasi. Asumsi ini mendorong berusaha keras untuk memenuhi apapun yang diinginkan oleh hawa nafsunya. Mereka mengeluarkan biaya yang banyak untuk membeli barang-barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Mereka berfoya-foya. Padahal sudah dimaklumi bersama, bahwa terlalu banyak makan menyebabkan seseorang malas melaksanakan perbuatan taat. Sementara pada bulan yang mulia ini, seorang muslim diharapkan mengurangi makan sehingga bisa bersungguh-sungguh dalam beribadah.
Kaum Muslimin, rahimakumullâh
Sebagian lagi memahaminya sebagai kesempatan untuk tidur dan bermalas-malasan. Dia pun “memanfaatkan” sebagian besar waktunya untuk mendengkur, bahkan sampai tertinggal shalat jamaah di masjid. Mereka berdalil dengan hadits lemah,
نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ
Tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah. (Hadits ini dinyatakan dhaif oleh Syaikh al-Albâni rahimahullah dalam Silsilah Ahadits adh-Dhaifah, no. 4696).
Ini jelas sebuah kekeliruan.
Sebagian lagi asik menyantap hidangan saat berbuka sampai lupa diri dan meninggalkan shalat Maghrib. Inilah di antara fenomena meyedihkan yang sering kita temukan di tengah masyarakat pada bulan Ramadhân. Mereka meninggalkan berbagai kewajiban dan melakukan aneka perbuatan yang diharamkan. Rasa takut kepada adzab Allâh Subhanahu wa Ta’ala seakan sudah tidak ada lagi di hati mereka. Kalau kelakuan mereka, masihkah Ramadhân memiliki keistimewaan di mata mereka? Manfaat apa yang bisa mereka petik darinya?
Kaum Muslimin, rahimakumullâh
semoga Allâh Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan taufik kepada kita semua untuk senantiasa beramal shaleh.
[Khutbah Kedua]
وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ وبارك عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَآإِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَآإِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَطَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَآ أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ أَقِمِ الصَّلاَةَ

Program Supervisi Kepala Madrasah



PROGRAM SUPERVISI
KEPALA SEKOLAH









DISUSUN OLEH :


Fathur Rohman,S.Ag





Kepala Madrasah Periode 2018-2022
 






























KATA PENGANTAR

Puji dan syukur  dipersembahkan ke hadirat Allah Yang Maha Kuasa , atas rahmat dan karunia-Nya jualah kami dapat menyelesaikan penyusunan Program Supervisi Tahun 2018 pada MI Bahrul Ulum Purworejo kec. Pungging.

Program Supervisi Tahun 2018 pada MI Bahrul Ulum Purworejo kec. Pungging ini disusun dengan latar belakang tuntutan untuk memenuhi implementasi salah satu kompetensi yang harus dikuasai dan dilaksanakan seorang Kepala Sekolah yaitu Kompetensi Supervisi. Pogram Supervisi tahun 2018 ini meliputi Supervisi Manajerial dan Supervisi Akademis. Supervisi Akademis dilakukan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan profesionalisme guru dalam melaksanakan tugas pokoknya sedangkan Supervisi Manajerial dilakukan untuk meningkatkan kinerja pengelolaan dan administrasi sekolah.

Harapan kami semoga Program Supervisi Tahun Pelajaran 2018/2019 dapat terlaksana dengan efektif dan bermanfaat bagi peningkatan kualitas pembelajaran dan kualitas pengelolaan setiap unit kegiatan  dan administrasi sekolah.

Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan Program Supervisi Tahun2018  ini terutama Pengawas Pembina yang memberi masukan bagi terwujudnya Program Supervisi ini.

                                                                                    Mojokerto,
Pengawas Pembina                                                  Kepala MI Bahrul  Ulum
                                                                                    Purworejo Pungging



H.Drs.Misnan                                              ....................................
NIP.........................................                                      NIP.








DAFTAR ISI



HALAMAN JUDUL                 ......................................................................................

KATA PENGANTAR  ......................................................................................

DAFTAR ISI                            ......................................................................................

BAB 1. PENDAHULUAN       ......................................................................................
            a. Latar Belakang        ......................................................................................
            b. Landasan Hukum   ......................................................................................
            c. Tujuan                     ......................................................................................
            d. Ruang Lingkup        ......................................................................................

BAB 2. ANALISIS HASIL SUPERVISI TAHUN ................ ................................
            a. Analisis Hasil Supervisi Akademis Tahun ................................................


BAB 3. RENCANA PELAKSANAAN SUPERVISI TAHUN ............................        ..........
            a. Rencana Supervisi Akademis Tahun ..............................   ................................
            b. Rencana Supervisi Internal Manajerial Tahun .................... .....................
            c. Jadwal Kegiatan Supervisi Akademis Tahun .........................   .....................
            d. Jadwal Kegiatan Supervisi Internal Manajerial Tahun ............................... ..........

BAB 4. PENUTUP                  ......................................................................................

LAMPIRAN
 Instrumen Supervisi




















BAB 1
P E N D A H U L U A N

a.                  Latar Belakang.

Permendiknas Nomor 13 Tahun 2007 menyatakan bahwa seorang Kepala Sekolah harus menguasai Standar Kompetensi Kepala Sekolah yang terdiri atas : kompetensi kepribadian, kompetensi manajerial, kompetensi supervisi, kompetensi kewirausahaan dan kompetensi sosial.

Penjabaran kompetensi supervisi pada intinya adalah supervisi akademis dimana langkah-langkah yang dilakukan adalah merencanakan program supervisi akademik dalam rangka peningkatan profesionalisme guru, melaksanakan supervisi akademik terhadap guru dengan menggunakan pendekatan dan teknik supervisi yang tepat serta menindaklanjuti hasil supervisi akademik terhadap guru dalam rangka peningkatan profesionalismenya.

Mencermati hasil analisis Program Supervisi Tahun  pada MI Bahrul Ulum Purworejo kec. Pungging secara umum ditemukan beberapa kelemahan yang perlu diperbaiki bagi peningkatan kualitas pembelajaran sekaligus peningkatan profesionalisme guru, seperti : pengembangan indikator dan materi pembelajaran, penggunaan metode pembelajaran yang belum variatif, lemahnya penguasaan guru dalam model-model pembelajaran aktif , dan sebagainya.

Karena itu dalam rangka melaksanakan tugas Kepala Sekolah sebagai Supevisor/Penyelia maka perlu disusun program supervisi yang secara menyeluruh dan sistematis menjabarkan rencana kegiatan yang akan dilakukan serta apa tindak lanjut dari hasil supervisi setelah kegiatan dilakukan agar terjadi perbaikan yang signifikan dalam kegiatan akademis di MI Bahrul Ulum Purworejo kec. Pungging
b. Landasan Hukum.
1.    Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
2.    Undang Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
3.    Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
4.    Permendiknas RI Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi  Kepala Sekolah / Madrasah
5.    Permendiknas RI Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru
6.    Permendiknas RI Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan
c.    Tujuan.

Penyusunan Program Supervisi Tahun 2018 pada MI Bahrul Ulum Purworejo kec. Pungging ini bertujuan sebagai berikut :

1.    Acuan bagi pelaksanaan kegiatan supervisi di lingkungan MI Bahrul Ulum Purworejo kec. Pungging
2.    Meningkatkan profesionalisme guru dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pendidik
3.    Meningkatkan kualitas proses pembelajaran pada setiap mata pelajaran yang bermuara pada peningkatan kualitas tamatan.
4.    Selain supervisi akademis , program supervisi ini juga dilengkapi dengan supervisi manajerial pada setiap unit kegiatan di lingkungan SMK Negeri ........................... yang merupakan supervisi internal dalam rangka meningkatkan kualitas pengelolaan unit kegiatan dan administrasi sekolah


d.   Ruang Lingkup.

Adapun ruang lingkup Program Supervisi Tahun .2018  pada MI Bahrul Ulum Purworejo kec. Pungging adalah :

1.    Supervisi Akademis :
a.      Pengembangan Silabus/Perumusan Indikator
b.      Pengembangan RPP/Materi Pembelajaran
c.       Peningkatan Penguasaan Metode Pembelajaran
d.      Peningkatan Penguasaan Model Model Pembelajaran
e.      Peningkatan Penguasaan Sistem Penilaian Hasil Belajar
f.        Pelaksanaan Pembelajaran
g.      BK/Pengembangan Diri

2.    Supervisi Internal Manajerial :
a.      Administrasi Tata Usaha
b.      Kurikulum
c.       Kesiswaan/Ekstra Kurikuler
d.      Sarana/Prasarana
e.      Humas/Hubungan Industri
f.        Perpustakaan
g.      Koperasi Sekolah/Koperasi Siswa
h.      Lingkungan/Budaya Sekolah



































BAHRUL ULUM PUNGGING

Supervisi Guru Klas I Bu Anis

MI bahrul ulum